LembarIlmu.com – Albert Einstein, ilmuwan legendaris yang kenal dengan teori relativitas, sering menjadi sorotan bukan hanya karena prestasinya di bidang fisika, tetapi juga karena pandangan filosofis dan religiusnya. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: Apakah benar Einstein tidak percaya Tuhan? Sejumlah pernyataan yang kutip dari surat-surat dan wawancara Einstein kadang terdengar ambigu. Ia pernah menyatakan tidak percaya pada Tuhan yang memerintah atau campur tangan langsung dalam kehidupan manusia. Einstein menolak konsep Tuhan personal seperti yang jelaskan dalam agama tradisional. Namun, ia tidak sepenuhnya ateis.
Dalam banyak tulisannya, Einstein menyebut dirinya seorang “penganut agama kosmik”, yang menghargai keteraturan alam semesta dan hukum-hukum yang mengaturnya. Pandangan ini menunjukkan bahwa Einstein memandang Tuhan lebih sebagai manifestasi keteraturan dan harmoni alam, bukan sosok pribadi yang menuntun atau menghakimi manusia. Ia menganggap alam semesta penuh keajaiban yang layak hargai dan pahami, sehingga perasaan religius bagi Einstein muncul dari rasa kagum terhadap alam dan keteraturannya, bukan dari doktrin agama tertentu.
Surat dan Pernyataan Einstein tentang Tuhan
Dalam surat-surat pribadinya, Einstein sering menekankan bahwa ia menolak gagasan Tuhan yang campur tangan secara personal. Salah satu kutipan terkenal menyebut bahwa “Saya tidak percaya pada seorang Tuhan yang bermain dadu dengan alam semesta.” Pernyataan ini sering disalahartikan sebagai penolakan total terhadap konsep Tuhan, padahal konteksnya adalah penolakan terhadap konsep Tuhan personal yang terlibat dalam setiap peristiwa manusia.
Einstein juga pernah menulis surat kepada seorang pendeta Yahudi, di mana ia menekankan pentingnya etika dan moral yang bersumber dari pengalaman manusia, bukan dari perintah Tuhan. Namun, ia tetap mengakui adanya rasa kagum spiritual yang muncul ketika manusia menghadapi keindahan dan keteraturan alam semesta. Pandangan ini mencerminkan sikapnya yang agnostik-religius, menghargai nilai spiritual tanpa harus mengadopsi dogma agama tertentu. Banyak sejarawan menekankan bahwa Einstein menghormati agama dan moralitas, tetapi ia memisahkan kepercayaan pribadi dari institusi agama. Ia percaya bahwa pemahaman ilmiah dan apresiasi terhadap alam semesta dapat menumbuhkan perasaan religius yang lebih murni bandingkan mengikuti doktrin tertentu.
Kesimpulan: Einstein dan Keyakinannya
Singkatnya, Albert Einstein tidak menolak spiritualitas, tetapi ia menolak konsep Tuhan yang personal seperti dalam agama konvensional. Ia percaya pada keteraturan alam semesta, hukum-hukum kosmik, dan munculnya rasa kagum yang mendalam ketika memahami alam. Pandangannya lebih tepat golongkan sebagai agama kosmik atau agnostik spiritual, bukan ateisme total.
Pemahaman ini penting untuk menghindari kesalahpahaman tentang sosok Einstein. Ia adalah ilmuwan besar yang menghormati nilai moral dan spiritual, tetapi memandang Tuhan dalam konteks keteraturan alam, bukan pengawasan personal atas manusia. Dengan demikian, pertanyaan apakah Einstein percaya Tuhan tidak bisa jawab dengan sederhana “iya” atau “tidak”—jawabannya lebih kompleks dan filosofis.