Rusaknya Tata Ruang Picu Banjir Berulang di Kabupaten Bandung

LembarIlmu.com – Banjir berulang masih menjadi masalah serius di Kabupaten Bandung, dan penyebab utamanya mulai terungkap. Pemerintah daerah dan para pakar lingkungan menyoroti rusaknya tata ruang sebagai faktor utama yang memperparah risiko banjir di wilayah ini. Kondisi ini terjadi akibat pembangunan yang tidak terkontrol, alih fungsi lahan, dan minimnya sistem drainase yang memadai.

Sejumlah wilayah yang sebelumnya rawan banjir kini semakin sering terdampak akibat tata ruang yang tidak sesuai dengan kapasitas lingkungan. Pemukiman yang bangun di daerah resapan air, penebangan pohon secara masif, dan saluran air yang tersumbat menjadi kombinasi berbahaya. Warga setempat mengaku frustrasi karena setiap musim hujan selalu menghadapi ancaman banjir.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bandung menjelaskan, “Banyak pembangunan yang tidak memperhatikan tata ruang dan daya tampung lingkungan. Akibatnya, air hujan tidak terserap dengan baik, sehingga banjir berulang terjadi.” Penanganan masalah ini memerlukan koordinasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak terkait untuk memperbaiki tata ruang dan sistem pengelolaan air.

Dampak Rusaknya Tata Ruang terhadap Kehidupan Warga

Rusaknya tata ruang tidak hanya menimbulkan banjir, tetapi juga berdampak pada kesehatan, ekonomi, dan mobilitas warga. Banjir yang melanda permukiman menyebabkan kerusakan rumah, kendaraan, dan fasilitas umum. Aktivitas harian warga terganggu, termasuk akses ke sekolah, pasar, dan fasilitas kesehatan.

Seorang warga yang rumahnya terdampak banjir mengatakan, “Setiap hujan deras, kami selalu waspada. Air cepat naik karena saluran tersumbat dan banyak lahan resapan yang hilang. Kami berharap pemerintah lebih serius menata ruang agar banjir tidak terus berulang.”

Selain itu, kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan dan pembangunan liar mempersulit proses mitigasi bencana. Drainase yang buruk, kawasan hijau yang berkurang, dan saluran sungai yang tidak terawat membuat kapasitas aliran air semakin terbatas. Hal ini memaksa pemerintah melakukan penanganan darurat setiap kali hujan deras terjadi.

Upaya Pemerintah dan Solusi Jangka Panjang

Pemerintah Kabupaten Bandung tengah melakukan evaluasi tata ruang, termasuk pemetaan wilayah rawan banjir dan pengaturan pembangunan yang lebih ketat. Beberapa upaya mitigasi yang sedang dijalankan meliputi normalisasi sungai, pembuatan tanggul, dan perbaikan sistem drainase. Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga daerah resapan air dan tidak melakukan alih fungsi lahan sembarangan juga gencarkan. Pemerintah berharap dengan kombinasi pengawasan pembangunan dan partisipasi warga, risiko banjir dapat kurangi secara signifikan.

Para pakar lingkungan menekankan bahwa perbaikan tata ruang jangka panjang menjadi kunci untuk mengatasi banjir berulang. Perencanaan yang memperhatikan kapasitas alam, pengelolaan air, dan pelestarian kawasan hijau akan memberikan solusi berkelanjutan bagi Kabupaten Bandung. Dengan langkah-langkah tersebut, harapkan warga tidak lagi menghadapi banjir setiap musim hujan, dan pembangunan di Kabupaten Bandung dapat berjalan selaras dengan lingkungan. Kesadaran bersama menjadi kunci agar tata ruang dan mitigasi bencana dapat berjalan efektif.