LembarIlmu.Com – Anggota DPR RI sekaligus pemerhati sejarah, Fadli Zon, kembali menegaskan pentingnya penguatan narasi sejarah nasional dalam sebuah diskusi bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) serta Universitas Nasional (UNAS). Pertemuan ini menyoroti peran strategis sejarah sebagai fondasi identitas bangsa di tengah tantangan global dan arus informasi digital yang kian deras.
Fadli Zon menilai bahwa sejarah tidak boleh pandang sekadar sebagai catatan masa lalu, melainkan sebagai instrumen penting untuk membangun karakter dan kesadaran kebangsaan. Ia menekankan bahwa generasi muda perlu memahami sejarah secara utuh, objektif, dan berbasis riset agar tidak kehilangan akar identitas nasional.
Dalam pembahasannya, Fadli juga menyoroti fenomena distorsi sejarah yang kerap muncul akibat narasi sepihak atau minimnya literasi sejarah. Menurutnya, kondisi ini bisa berdampak serius jika tidak imbangi dengan penguatan pendidikan sejarah di perguruan tinggi. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemangku kebijakan dan institusi akademik menjadi langkah krusial.
UNAS sebagai salah satu perguruan tinggi tertua di Indonesia pandang memiliki peran penting dalam pengembangan kajian sejarah. Fadli mengapresiasi kontribusi akademisi yang terus mendorong riset dan diskusi kritis mengenai sejarah nasional, termasuk membuka ruang dialog lintas perspektif.
Ia juga menegaskan bahwa penguatan sejarah bukan bertujuan untuk mengagungkan masa lalu secara berlebihan, melainkan untuk mengambil pelajaran dan nilai-nilai kebangsaan yang relevan dengan tantangan masa kini.
Peran Mendiktisaintek dan Kampus dalam Menjaga Narasi Sejarah
Dalam diskusi tersebut, Mendiktisaintek menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan dunia akademik dalam menjaga kualitas pendidikan sejarah. Perguruan tinggi dorong untuk tidak hanya menjadi pusat transfer ilmu. Tetapi juga pusat produksi pengetahuan sejarah yang kredibel dan berbasis metodologi ilmiah.
Fadli Zon menyambut baik komitmen tersebut dan menilai bahwa kampus memiliki posisi strategis dalam membentuk cara pandang kritis mahasiswa terhadap sejarah. Ia menekankan bahwa kebebasan akademik harus manfaatkan untuk memperkaya kajian sejarah, bukan justru melemahkan pemahaman kebangsaan.
Kolaborasi dengan UNAS sebut sebagai contoh konkret bagaimana institusi pendidikan dapat berperan aktif dalam penguatan narasi sejarah. Melalui seminar, penelitian, dan publikasi ilmiah, kampus harapkan mampu menghadirkan perspektif sejarah yang seimbang dan berakar pada fakta.
Selain itu, Fadli juga menyoroti perlunya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran sejarah. Digitalisasi arsip, pemanfaatan media interaktif, serta pendekatan multidisipliner nilai mampu membuat sejarah lebih menarik dan relevan bagi generasi muda.
Diskusi ini pun nilai sebagai langkah awal untuk memperluas kerja sama antara pemerintah, legislatif, dan perguruan tinggi dalam bidang sejarah dan kebudayaan. Harapannya, upaya penguatan sejarah tidak berhenti pada wacana, tetapi wujudkan dalam kebijakan dan program pendidikan yang berkelanjutan.
Dengan adanya sinergi antara Fadli Zon, Mendiktisaintek, dan UNAS, penguatan sejarah nasional harapkan mampu menjawab tantangan zaman. Sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana bangsa ini memahami dirinya sendiri dan menentukan arah masa depan.
