LembarIlmu.com – Penyidikan terhadap Dewi Astutik alias PA (43) resmi memasuki babak baru setelah penangkapan oleh tim gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN), Interpol, dan aparat dari Kamboja pada akhir November awal Desember 2025. Dewi duga sebagai otak di balik penyelundupan dua ton sabu, dengan nilai barang bukti perkirakan mencapai Rp 5 triliun. Operasi penangkapan ini lakukan di Sihanoukville, Kamboja, setelah penyelidikan intensif menyusul status buron internasional yang sematkan pada Dewi. Saat evakuasi ke Indonesia, Dewi langsung bawa ke markas BNN untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Sebelumnya, jejak hidup Dewi menunjukkan bahwa ia pernah bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri hingga kemudian berganti profesi menjadi pengajar bahasa Inggris dan Mandarin di Kamboja dengan penghasilan stabil. Namun, di balik semua itu, fakta bahwa Dewi kini menjadi tersangka besar sindikat narkoba membuat banyak orang terkejut termasuk keluarganya sendiri.
Suami Ungkap: “Istri Rutin Kirim Uang untuk Anak”
Meski namanya kini terseret kasus besar, suami Dewi, Sarno, mengaku bahwa selama istrinya tinggal dan bekerja di luar negeri, Dewi memang rutin mengirim uang untuk kebutuhan anak mereka meskipun dalam jumlah sederhana dan bukan jumlah besar. Uang tersebut gunakan untuk jajan dan keperluan harian buah hatinya.
“Sebelumnya ia sempat bilang hanya bekerja sebagai TKW saya tak pernah menduga dia terlibat dalam sindikat narkoba internasional,” kata Sarno, mengekspresikan rasa syok dan kekecewaannya. Ia menambahkan bahwa komunikasi dengan istrinya terhitung jarang: “Menelepon sebulan sekali,” ujarnya.
Pada saat itu, cvita istrinya tak pernah menunjukkan indikasi bahwa ia menjalankan aktivitas ilegal. Sarno mengaku pasrah dan dalam kondisi sulit kini. Ia menyatakan tidak tahu banyak soal aktivitas istrinya.
“Soal narkoba? Saya benar-benar tidak tahu,” ujarnya.
Reaksi Publik & Implikasi Sosial
Penangkapan Dewi Astutik langsung menjadi sorotan publik bukan saja karena skala barang bukti yang sangat besar (dua ton sabu). Tapi juga karena ada sisi kemanusiaan: ternyata di balik tuduhan sebagai bandar narkoba. Ada pengakuan bahwa ia selama ini berusaha memenuhi kebutuhan anaknya. Bagi masyarakat terutama yang memiliki keluarga jauh dan tergantung remiten. Cerita ini menjadi peringatan keras bahwa tidak semua kiriman uang menggambarkan kondisi hidup yang “bersih”. Status pekerjaan, asal uang, dan latar belakang yang riil perlu perhatikan.
Kasus Dewi juga menggarisbawahi bagaimana sindikat narkoba internasional dapat memanfaatkan jaringan migran. Memanfaatkan identitas palsu, dan berpindah negara untuk elusif dari penegak hukum. Dengan penangkapan Dewi Astutik, otoritas terkait berharap bisa menggali lebih jauh jaringan yang selama ini beroperasi lintas negara. Serta memutus jalur suplai narkoba yang sangat besar skala internasional. Publik dan keluarga korban imbau tetap waspada bukan hanya terhadap peredaran narkoba, tetapi juga terhadap potensi eksploitasi manusia di balik narasi pekerjaan migran/perantau.
